Saat ini, hampir semua remaja tidak bisa lepas dari ponsel. Sore atau malam hari menjadi waktu favorit untuk membuka media sosial, mulai dari Instagram, TikTok, hingga YouTube. Aktivitas scroll feed sebelum tidur sudah menjadi kebiasaan sehari-hari yang tampak biasa, tetapi sebenarnya membawa dampak bagi kesehatan dan kebiasaan remaja.
Scroll media sosial memberi hiburan instan. Remaja bisa menonton video lucu, melihat cerita teman, atau menelusuri konten menarik. Aktivitas ini membuat mereka rileks setelah beraktivitas seharian. Namun, jika dilakukan terlalu lama, kebiasaan ini dapat mengganggu kualitas tidur dan memengaruhi produktivitas keesokan harinya.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah scroll media sosial sebelum tidur hanya hiburan ringan, atau bisa memberi dampak positif dan negatif? Opini ini akan membahas kedua sisi tersebut sekaligus memberi panduan bijak agar remaja tetap bisa memanfaatkan media sosial secara sehat.
Hiburan dan Inspirasi yang Diberikan Media Sosial
Scroll media sosial sebelum tidur memberi hiburan cepat dan mudah diakses. Remaja bisa menonton video lucu, meme, atau konten favorit lainnya. Aktivitas ini membantu mereka melepaskan stres setelah hari yang panjang, sekaligus memberikan pengalaman ringan sebelum beristirahat.
Selain hiburan, media sosial memberi inspirasi. Banyak akun membagikan tips kreatif, tutorial, atau motivasi singkat yang bisa ditiru. Misalnya, tutorial menggambar, tips belajar, atau ide olahraga ringan di rumah. Dengan begitu, remaja tetap mendapat manfaat meskipun aktivitasnya terlihat santai.
Interaksi singkat juga memberi rasa terhubung. Remaja bisa membalas komentar teman atau mengirim pesan. Aktivitas ini memberi kepuasan sosial karena mereka merasa tetap dekat dengan teman, walaupun tidak bertemu secara fisik. Bahkan, interaksi singkat ini bisa membangun jaringan sosial yang positif jika dilakukan dengan bijak.
Di sisi lain, melihat konten positif dapat menambah semangat untuk melakukan aktivitas lain. Misalnya, menonton video motivasi bisa membuat remaja lebih termotivasi mengerjakan tugas sekolah. Dengan cara ini, scroll media sosial tidak selalu bersifat negatif, melainkan bisa menjadi sarana hiburan dan edukasi ringan.
Dampak Negatif Scroll Sebelum Tidur

Meskipun ada manfaat, scroll media sosial sebelum tidur juga membawa risiko. Salah satunya adalah gangguan tidur. Cahaya dari layar ponsel memengaruhi hormon melatonin yang mengatur siklus tidur. Akibatnya, remaja bisa sulit tidur nyenyak, merasa lelah keesokan harinya, dan konsentrasi menurun di sekolah.
Selain itu, scroll berlebihan dapat memicu stres atau cemas. Konten negatif, perbandingan sosial, atau berita buruk yang muncul di feed bisa mengganggu suasana hati. Remaja yang terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain berisiko merasa rendah diri atau tertekan.
Kebiasaan ini juga bisa membuat waktu tidur menjadi lebih singkat. Satu video bisa menuntun ke video berikutnya, dan sebelum sadar, jam tidur sudah lewat. Akibatnya, rutinitas harian terganggu, dan performa belajar menurun. Kualitas tidur yang buruk juga memengaruhi mood, energi, dan kesehatan fisik.
Selain itu, terlalu sering scroll sebelum tidur dapat mengurangi interaksi sosial di dunia nyata. Remaja menjadi lebih fokus pada dunia virtual dan kurang meluangkan waktu berbicara atau bermain dengan keluarga dan teman. Padahal, interaksi langsung tetap penting untuk membangun kemampuan komunikasi dan empati.
Strategi Bijak Menggunakan Media Sosial Malam Hari

Agar manfaat tetap maksimal dan dampak negatif bisa diminimalkan, remaja perlu strategi bijak. Pertama, batasi durasi scroll sebelum tidur. Misalnya, maksimal 20–30 menit agar tubuh tetap punya waktu untuk rileks dan mempersiapkan tidur.
Kedua, pilih konten yang menenangkan dan positif. Video lucu, musik santai, atau tutorial kreatif lebih baik daripada konten kompetitif atau negatif. Dengan cara ini, suasana hati tetap rileks sebelum tidur, dan energi tetap terjaga untuk aktivitas keesokan harinya.
Ketiga, tetap jaga keseimbangan dengan aktivitas offline. Membaca buku, mendengarkan musik santai, atau mengobrol dengan keluarga sebelum tidur membantu tubuh menyesuaikan diri untuk istirahat. Aktivitas ini memberi dampak positif bagi kualitas tidur dan kesehatan mental.
Orang tua juga berperan penting. Mereka bisa memberi arahan, memantau durasi penggunaan, dan membantu memilih konten yang sesuai. Dengan komunikasi yang baik, remaja bisa belajar mengatur diri secara mandiri tanpa merasa dibatasi secara berlebihan.
Evaluasi rutin juga penting. Remaja bisa menilai apakah kebiasaan scroll memberi dampak positif atau negatif. Dari sini, mereka bisa menyesuaikan durasi, jenis konten, atau waktu scroll agar tetap bermanfaat. Konsistensi dan pengawasan diri menjadi kunci keberhasilan.
Selain itu, penggunaan pengingat digital bisa membantu. Fitur alarm atau batas waktu aplikasi dapat menandai kapan waktu berhenti scroll. Strategi sederhana ini efektif untuk mengontrol kebiasaan dan menjaga ritme tidur.
Dengan cara ini, scroll media sosial tetap bisa menjadi hiburan ringan, sumber inspirasi, sekaligus membantu membangun kebiasaan digital sehat. Aktivitas ini bisa tetap menyenangkan tanpa mengorbankan kesehatan atau produktivitas.
Kesimpulan
Scroll media sosial sebelum tidur memberi hiburan, inspirasi, dan rasa terhubung, tetapi juga membawa risiko gangguan tidur dan stres. Dengan membatasi durasi, memilih konten positif, menjaga keseimbangan dengan aktivitas offline, serta mendapat dukungan orang tua, remaja dapat menikmati media sosial secara sehat. Keseimbangan antara hiburan digital dan istirahat nyata menjadi kunci utama agar kebiasaan ini tetap bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.